Monday, March 31, 2014


Komunitas warga Korea Selatan di Indonesia membacakan deklarasi yang ditujukan kepada Korea Utara di ruang perpustakaan Asosiasi Korea di Indonesia, Jakarta, Rabu, 26 Maret 2014

Sekitar 50 warga Korea Selatan yang tergabung dalam Komunitas warga  Korea Selatan  di Indonesia,memperingati empat tahun tenggelamnya kapal perang Cheonan yang menewaskan 46 dari 104 prajurit yang bertugas saat itu.

Peringatan yang diadakan di ruang perpustakaan Asosiasi Korea di Indonesia, Jakarta, Rabu, 26 Maret 2014 didahului dengan upacara penghormatan terhadap para korban yang tewas.Layaknya upacara resmi kenegaraan, mereka menyanyikan lagu kebangsaan, mengheningkan cipta, dan membacakan deklarasi Komunitas Masyarakat Korea di Indonesia.

Mereka kemudian menyaksikan pemutaran film tentang peristiwa Cheonan yang berdurasi sekitar 20 menit. Film itu menjelaskan tentang kronologi penyerbuan mendadak pasukan Korea Utara ke arah kapal perang Cheonan, kesaksian sejumlah orang termasuk keluarga para korban.

Komunitas Warga Korea Selatan di Indonesia dalam deklarasinya, menuntut Korea Utara meminta maaf kepada keluarga korban dan segera menghentikan tindakan-tindakan provokasi di Semenanjung Korea. Mereka juga mengingatkan Korea Utara untuk segera memperbaiki kondisi hak asasi manusia warga Korea Utara.

Serangan terhadap kapal perang Cheonan yang berbobot 1.200 ton terjadi pada malam hari,  26 Maret 2010. The Telegraph menyebutkan, satu tim khusus Korea Utara telah dibentuk untuk melakukan aksi bunuh diri dengan menggunakan kapal selam untuk menyerang Cheonan. Diduga  penyerangan itu atas perintah  pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il.

Penyerangan terjadi sehari setelah penangkapan dua mata-mata Korea Utara yang berusaha membelot ke Korea Selatan. Keduanya dituduh mendalangi pembunuhan Hwang Jang-yop, pejabat top partai berkuasa yakni, Partai Pekerja Korea Utara.
Tenggelamnya Cheonan di laut Kuning pada 26 Maret 2010 disebut sebagai peristiwa paling mematikan setelah Perang Korea  pada tahun 1953.

Korea Selatan yang memimpin investigasi internasional  menyimpulkan serangan torpedo Korea Utara sebagai penyebab tenggelamnya Cheonan. Namun, Pyongyang berkukuh tidak mengakuinya.

Ketua Asosiasi Warga Korea di Indonesia, Shin Kee-Yup mengatakan Korea Selatan memperingati tenggelamnya Cheonan setiap tanggal 26 Maret.Sampai saat ini, ujarnya, Korea Utara belum menyatakan maaf kepada keluarga korban. "Bahkan Korea Utara tidak mengakui sebagai pelaku," kata Shin, 65 tahun, menggunakan  bahasa Indonesia yang lancar kepada wartawan.

Menurut Shin, sulit mengharapkan adanya pembaruan kebijakan di Korea Utara di masa pemerintahan Kim Jong-un. Kim, tak ubah dengan ayahnya, Kim Jong-Il yang menutup pintu bagi bersatunya dua Korea.

Meski situasinya berat, namun menurut Shin, warga Korea Selatan tetap optimistis yang ditandai dengan terus membantu warga Korea Utara  meningkatkan kemampuan ekonominya diantaranya dengan pembentukan kawasan industri Kaesong di wilayah Korea Utara.


THE TELEGRAPH | KOREA TIMES | MARIA RITA HASUGIAN







Penyair Korea Selatan, Jeonghye Choi, membacakan karyanya dalam sesi diksusi Women and Literary di Asean Literary Festival 2014 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 Maret 2014.
Demam genre musik asal Korea Selatan, K-Pop, di kalangan muda di berbagai negara tidak membuat Jeonghye Choi, 59 tahun,  penyair dan pengajar sastra modern di  Korea University, patah hati. Menurut dia, penggemar puisi merupakan kaum minoritas di Korea Selatan. Namun Choi tetap semangat karena setidaknya ia masih memiliki siswa yang berminat pada bidang sastra, khususnya puisi.

Terbang dari Seoul ke Jakarta untuk berbicara dalam diskusi "Women and Literature" di ASEAN Literary Festival yang digelar 21-23 Maret 2014, Choi mengaku kagum atas soliditas perempuan di Indonesia. Hal yang jarang ditemukan di negaranya.

"Perempuan di negara saya jarang sekali berkumpul seperti di sini. Mereka sangat ambisius, kehidupannya individualis. Ini terjadi karena persaingan hidup yang berat," kata Choi kepada Tempo, Minggu, 23 Maret 2014. Berikut ini petikan wawancara dengan penulis tujuh buku yang memuat puisi karyanya dan meraih sejumlah penghargaan nasional dan internasional tersebut.

Monday, March 10, 2014

Nikmatnya Teh di Swat Valley



Suasana pagi di kota distrik Swat Valley, provinsi Khyber Pakhtunkwa, sekitar 160 kilometer dari Islamabad, Pakistan, Kamis pekan lalu. Warung kopi ramai dikunjungi warga yang ingin sekadar minum teh yang dicampur dengan susu dan roti khas setempat sebagai menu sarapan pagi. (Maria Rita Hasugian/Tempo)



Awal Januari 2013, saya mendapat undangan dari pemerintah Pakistan untuk melakukan perjalanan jurnalistik. Sempat ragu-ragu apakah kami akan berangkat karena situasi keamanan atau ada hal lain? Akhir Januari, kepastian itu datang. Saya pun berangkat ke Pakistan bersama lima jurnalis Indonesia lainnya dan seorang penulis buku dan artikel di media. Selama delapan hari kami mengunjungi beberapa tempat yang menarik di Pakistan. Saya tertantang mengeksplorasi Pakistan yang sedang menghadapi masalah keamanan dan guncangan politik menjelang pemilihan umum untuk memilih pemerintahan baru di negara berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu.

Para penjaga keamanan, baik militer maupun polisi, berjaga-jaga di setiap sudut kota dan tempat-tempat publik di Islamabad, ibu kota Pakistan. Bahkan di hotel tempat saya menginap bersama teman-teman jurnalis lainnya, dua militer berjaga-jaga di pintu masuk hotel. Mereka pulalah yang membukakan pintu hotel untuk setiap tamu hotel yang datang ! Ini pengalaman pertamaku sejak bepergian melakukan tugas jurnalistik maupun sekadar berlibur ke luar negeri.

Tentu saja saya merasa tidak nyaman untuk berjalan-jalan di kota Islamabad karena kemana saja kami pergi, petugas keamanan mengikuti kami. Ya, saya paham, kami ini jurnalis Indonesia yang diundang resmi oleh pemerintah Pakistan. Mereka bertanggung jawab atas keselamatan jiwa kami. Jadilah kami seperti pejabat penting yang dikawal ke manapun kami pergi didampingi seorang liason officer Mr. Qamar. Pengalaman ini saya tuangkan dalam laporan jurnalistik saya di harian Koran Tempo yang terbit pada 2 Februari 2013.


Salju di puncak pegunungan  yang membentengi Distrik Swat Valley, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, pertengahan pekan lalu, tampak berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Angin musim dingin berembus membuat tubuh menggigil. Burung-burung gagak beterbangan di antara ranting-ranting pohon yang daunnya berguguran di tanah.

Thursday, February 27, 2014

Aung San Suu Kyi: All political prisoners must be released


THE male voice on the other side of the telephone two weeks ago brought good news: Tempo’s request to interview Burma’s pro-democracy leader, Aung San Suu Kyi, got the green light. “But I remind you, everything is uncertain here. So come and take your chances,” said the voice of a member of the National League for Democracy (NLD), the political party led by Suu Kyi.

Wednesday, February 26, 2014

Potret Panjang Penderitaan Etnis Rohingya

Selama delapan tahun fotografer Gregory "Greg" Constantine merekam denyut kehidupan etnis Rohingya dari dua negara, Bangladesh dan Myanmar. Ia memotret berbagai sisi kehidupan orang-orang Rohingya jauh sebelum pecah konflik berdarah pada 2012 lalu. Konflik berdarah yang diotaki warga Budha Myanmar  pada masa transisi pemerintah junta militer ke pemerintahan demokratis itu  membuat Myanmar mendapat sorotan tajam dari masyarakat internasional.  Ia mengkritik pemerintah Myanmar yang menolak mengakui Rohingya bagian dari negara itu. Fotographer otodidak ini meminta para pemimpin ASEAN bersatu mendorong pemerintah Myanmar untuk mengakhiri kekejaman yang diderita etnis Rohingya dan memberikan  hak-hak politik kepada etnis yang dianggap Greg paling menderita di antara etnis-etnis tanpa kewarganegaraan di muka bumi ini  .

Saturday, April 6, 2013

Akhir Perjalanan Khmer Merah

PENGADILAN itu telah dipersiapkan. Gedung pengadilan, para hakim, aturan main—semua ini menunjukkan tekad bulat Kamboja untuk menyelesaikan masa lalunya yang demikian kelam: legasi Khmer Merah (1975–1979). Mereka, elite Khmer Merah yang masih hidup, sebenarnya sudah uzur. Pol Pot, orang nomor satu rezim yang dinilai bertanggung jawab atas pembantaian 1,7 juta rakyat Kamboja itu, telah tiada. Tapi inilah pengadilan besar buat orang nomor dua, tiga, dan empat: Nuon Chea, Ieng Sary, dan Khiew Samphan. Kepastian bahwa pengadilan akan digelar membuat mereka—juga siapa saja yang terlibat Khmer Merah—cemas. Sudah 28 tahun mereka hidup bebas, tak tersentuh hukum. Tulisan berikut adalah potret Kamboja yang mencoba mengatasi masa lalunya. Wartawan Tempo, Maria Hasugian, mengunjungi Pailin, kota kecil dekat perbatasan Kamboja- Thai land yang menjadi dapur penggodokan tentara Khmer Merah sebelum mereka memburu orang-orang yang tak sehaluan, terjun ke ladang -ladang pembantaian, the killing fields.

Monday, April 1, 2013

"Kami Terperangkap antara Ikhwanul Muslimin dan Dewan Militer"

Wawancara Tempo dengan Sekjen Dewan Mesir
Anissa Mohamed Essameldin Hassouna, TEMPO/Jacky Rachmansyah


Situasi Mesir semakin tegang menjelang pemilihan presiden Mesir pada Mei 2012 mendatang. Anissa Mohamed Essameldin Hassouna, Sekretaris Jenderal Dewan Mesir bidang Luar Negeri, menuturkan persoalan aktual dan kemungkinan yang akan terjadi di negaranya kepada Yogita Lal, Maria Rita, dan fotografer Jacky Rachmansyah dari Tempo di Serpong, Banten, pekan lalu. Anissa menghadiri seminar Mesir-Indonesia mengenai "Transisi Demokrasi dalam Islam, Negara dan Politik" di Hotel Aston Serpong Tangerang , 11 April 2012. Berikut petikan wawancaranya: